Selasa, 29 November 2011
The Swordless Samurai
di
00.20
Synopsis
Jepang abad ke -16 merupakan zaman pembantaian dan kegelapan. Zaman dimana satu-satunya hukum yang ada adalah hukum pedang. Dalam tatanan masyarakat hierarkis yang kaku dan melarang keras penyatuan kelas sosial, Hideyohsi lahir sebagai seorang anak petani miskin. Hideyoshi yang hanya tinggi 150 senti dan berbobot lima puluh kilogram serta tidak memiliki kemampuan bela diri, tampaknya mustahil untuk menjadi seorang samurai. Tetapi dialah yang menjadi pemenang tunggal dari perang berkepanjangan dan berhasil menyatukan negeri yang sudah tercabik-cabik selama lebih dari 100 tahun. Dialah Sang Samurai Tanpa Pedang.
LAHIR sebagai anak petani miskin, bertampang jelek, pendek, tanpa status dan tak mendapat pendidikan memadai, mungkin bagi sebagian besar orang seperti ditimpa "kutukan". Pasalnya, nyaris tak ada kelebihan yang dapat dibanggakan untuk menatap masa depan. Tapi kutukan seperti itu tidak membuat Hideyoshi meratap sedih. Meski ia lahir di Jepang abad ke-16 pada zaman perang antar-klan (masa kekacauan) yang menuntut orang lihai bermain pedang,..
sehingga tak membuka peluang Hideyoshi memiliki tempat bertahan hidup, apalagi berkarier bisa jadi pemimpin besar, tetapi Hideyoshi bisa membalik semua kesialan itu menjadi keberuntungan.
Hideyoshi bisa menjahit takdir kemiskinan menjadi kemujuran. Ia tak menjadikan kekurangan itu menentukan jalan hidupnya. Ia terus memupuk semangat untuk jadi pemimpin dengan mengandalkan otak daripada tubuh, akal daripada senjata, strategi dan logistik daripada tombak. Tidak mustahil jika seiring perjalanan waktu, ia mampu menapaki hidup dari petualang menjadi pemegang kedaulatan tertinggi Jepang sebagai wakil kaisar. Lalu, apa rahasia yang dipraktekan anak petani miskin yang dijuluki "monyet" itu sehingga bisa sukses?
Dalam buku The Swordless Samurai; Kebijakan Kepemimpinan Legenda Jepang Abad Keenam Belas Toyotomi Hideyoshi, Kitami Masao --dengan cara bertutur mewakili tokoh Hideyoshi-- mengungkapkan, "Keberhasilanku dalam meraih kepemimpinan dibangun atas dasar-dasar yang terdengar lumrah seperti pengabdian, penghargaan, kerja keras dan tindakan tegas" (hal. 5). Memang, dasar-dasar itu begitu sederhana. Tapi Hideyoshi menjalankan prinsip hidup itu melampaui kewajaran. Ia bekerja tiga kali lebih keras, mengabdi tiga kali lebih setia, memberi penghargaan tiga kali lebih tinggi, dan juga bertindak keras pada diri sendiri lebih dari orang lain. Maka, ia berhasil menjadi pemimpin.
Lahir sebagai anak petani miskin di Nakamura propinsi Owari, sebenarnya Hideyoshi sungguh dilahirkan dalam keadaan tidak beruntung. Ayahnya meninggal ketika ia berumur tujuh tahun, lantas ibunya menikah lagi (dengan seorang petani). Sewaktu kecil, ia tergolong nakal dan benci sekolah. Maka para biksu angkat tangan dan mengembalikan Hideyoshi pulang ke rumah. Saat ibunya memintanya untuk meninggalkan rumah guna mencari kerjaan, Hideyoshi selalu dipecat dan pulang lagi ke rumah. Padahal, di rumah ia selalu bertengkar dengan ayah tirinya.
Ketika ia berusia usia lima belas tahun, ia meninggalkan rumah dan berjanji kepada ibunya bawah ia tak akan pulang sebelum berhasil meraih apa yang dia impikan. Dia berpetualang, tidur di jalanan, dan kerap kelaparan; jadi pedagang jarum keliling, menjalani pekerjaan rendahan. Setelah lelah menggelandang, Hideyoshi sempat ikut klan Matshushita sebelum mengabdi Lord Nobunaga. Awal mengabdi pada Nobunaga, ia jadi pelayan pembawa sandal tapi hal itu tak mengurangi pengabdiannya. Apalagi -di mata Hideyoshi- Nobunaga adalah pemimpin yang luar biasa dan memiliki visi ke depan.
Kerja keras, pengabdian dan kesetiaan yang diukir Hideyoshi lambat laun membuahkan hasil. Ia menapaki jabatan; dari pembawa sandal jadi pengelola kayu bakar. Setelah dia berhasil mengubah kemustahilan menjadi kenyataan saat ia memenuhi tantangan membangun benteng Kiyoshi, dia pun naik jabatan jadi prajurit. Lalu, ketika dia kembali berhasil membangun benteng Sunomata, dan berhasil menyusun strategi perang yang bisa mengalahkan beberapa lawan, ia diangkat jadi jendral.
Karier Hideyoshi melesat cepat dan ia memiliki jiwa memimpin. Bahkan dia berhasil menjadi pemimpin saat krisis. Ketika Nobunaga meninggal dibunuh Mitsuhide, dia mengobarkan semangat untuk menuntut balas. Tak cuma di situ, ketika Nabukatsu dan Nobutaka --anak kedua dan ketiga Nobunaga, tapi dari selir-- saling berebut kekuasaan, Hideyoshi menengahi perselisihan (meski pun pada sisi lain; untuk menyelamatkan dirinya) dengan mengangkat Samboshi, cucu Nobunaga dari (putra mahkota) Nobutada yang ikut meninggal bersama Nobunaga. Karena Samboshi masih bayi, maka Hideyoshi menjadi wali.
Hidoyoshi kemudian meneruskan perjuangan Nobunaga, menyatukan Jepang dan kemudian menjadi wakil kaisar. Ia meraih jabatan tertinggi dimulai dari bawah tak mengandalkan silsilah, melainkan otak dan kerja keras. Tapi tak ada manusia yang sempurna. Setelah jadi wakil kaisar, dia terlena; sombong, lupa diri. Setelah Jepang damai, ia tidak bisa mengendalikan diri untuk mengekang obsesi menggempur Korea dan China.
Ditulis Kitami Masao dalam bentuk pengakuan (dengan gaya bertutur; "aku" Hideyoshi), buku ini mengungkap cukup adil riwayat hidup Hideyoshi. Tak salah, jika buku ini tak hanya mengisahkan setumpuk prestasi dan keberhasilan Hideyoshi, melainkan juga setumpuk kegagalan setelah ia meraih jabatan. Dilengkapi dengan setumpuk data; berupa lembaran surat, dokumen dan penelitian para ahli sejarah, penulis menjamin; bahwa buku ini mendekati akurat di tengah-tengah mitos yang melingkupi kepemimpinan Hideyoshi.
Lebih dari itu, buku ini menawarkan setumpuk prinsip juga rahasia hidup yang dapat digali dari perjuangan Hideyoshi dalam menapaki karier menjadi wakil kaisar. Maklum, karena buku ini tak hanya sekedar cerita tentang keberhasilan Hideyoshi melainkan juga berisi prinsip, rahasia sukses dan kebijakan politik "sang pemimpin besar" yang dicatat oleh sejarah. Dengan prinsip-prinsip itu tentu pembaca bisa merengkuh pelajaran berharga dari kebijakan-kebijakan politik Hideyoshi.
Apalagi, buku ini terbit dalam edisi Indonesia pada saat yang tepat. banyak elite politik yang haus kekuasaan untuk jadi pemimpin dan pejabat, Seperti caleg serta capres menjelang pemilu 2009. Karena itu, buku ini bisa jadi semacam panduan untuk para pemimpin. Sebab dari kepemimpinan Hidoyoshi, terpantul rasa empati pada rakyat yang bisa jadi pelecut bagi elite politik di negeri ini untuk tidak mengesampingkan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat. Pasalnya di balik riwayat hidup Hideyoshi, penulis menuturkan beberapa nasehat, petuah bahkan kebijakan politik yang digali dari setiap lembaran hidup yang pernah ditapaki Hideyoshi. ***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar